fbpx

www.darusshofa.com

Revolusi Industri 4.0 dalam perspektif Al Qur'an​

Oleh : Santri Ndeso

Perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarah umat manusia telah mengalami beberapa perubahan jika begitu besar pada kehidupan manusia saat ini. Era kontemporer atau abad ke-21, umat manusia menghadapi beberapa tangatangan dalam memikul tanggungjawab sebagai pemimpin (khalifah) jika mengatur urusan manusia di muka bumi ini. Salah satu tren terkemuka di era ini, dan mendapatkan perhatian jika besar di berbagai penjuru dunia adalah problematika mengenai fenomena revolusi indutri 4.0, sebagai proses kontinuitas revolusi industri sebelumnya. Di mana Fenomena Industri 4.0 merupakan perkembangan dari ide revolusi industri 1.0 jika lahir pada tahun 1784 di Inggris. Menurut European Parliamentary Reseacrh Service ide tersebut berevolusi hingga empat kali. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ilmu pengetahuan itu bebas nilai dari tataran aksiologisnya. Namun, dari aspek ontologis dan epistemologis tidaklah netral karena dipengaruhi oleh konteks asumsi paradigma dari lahirnya ilmu itu sendiri. Hal tersebut karena dalam filsafat ilmu khususnya sebuah paradigma ilmu pengetahuan tidak mungkin berangkat dari sesuatu jika kosong, pasti akan dipengaruhi oleh berbagai fenomena, budaya dan agama. Sebagaimana ditegaskan oleh T Thomas S. Khun bahwa "...normal-scientific research is directed to articulation of those phenomena and theories that paradigm already supplies." Dengan demikian, segala fenomena baik motif agama ataupun ideologi mempengaruhi terhadap ilmu pengetahuan. Dari penjelasan diatas, lahirnya industri 4.0 ini tentu tidak terlepas dari paradigma sekulerisme, jika tidak lain ilmu tersebut datang dari kaum sekuler. Hal tersebut tidak dapat kita nafikan, karena pada abad ke-21 saat ini didominasi oleh ideologi sekularisme. Pun tak heran, jikakajian-kajian dalam konsep revolusi industri 4.0 tidaklah menyinggung dimensi ketuhanan. Sebagai contoh misalnya dalam perspektif Lee dkk ditandai dengan bentuk peningkatan digitalisasi manufaktur jika didorong oleh empat faktor jika dominan di antaranya; 1. Peningkatan volumen data, kekuatan komputasi, dan konektivitas. 2.Muncul analisis, kemampuan dan kecederasan bisnis. 3. Terjadinya sebuah bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin. 4. Perbaikan intruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika serta 3D printing. Dari contoh tersebut terlihat secara eksplisit bahwa dalam kajiannya tidak sama sekali ditemukan peran agama dalam fenomena revolusi industri 4.0 itu sendiri. Dan jika menjadi problematika umat beragama khususnya umat Islam, di mana revolusi industri 4.0 hanya fokus terhadap hubungan kemanfaatan antar manusia sedangkan relasi dengan tuhan atau peranan agama seakan-akan tidak memiliki peran. Secara tidak langsung, hal ini menyebabkan terjadinya proses sekularisasi terhadap manusia melewati ilmu pengetahuan atau sains. Maka tulisan ini, mencoba untuk menghadirkan Al-Qur'an sebagai "weltanschaaung" -atau nama lain dari worldview- (pandagan alam dunia) jika dapat mengorientasikan industri 4.0 kepada manusia dengan dasar agama. Di mana Al-Qur'an dengan berbagai interpretasinya dijadikan paradigma dan pandangan alam terhadap industri 4.0. Memanggapi misi jika telah dipaparkan diatas, salah satunya dengan menambahkan dimensi ketuhanan, sehingga lingkup pembahasan didalamnya tidak hanya berbagai hal jika terkait kemanfaatan atau SDM saja. Oleh karena itu, menggegam Al-Qur'an sebagai weltanschaaung dapat mengambungkan dua aspek yaitu aspek ketuhanan dan aspek kemanusiaan (SDM, atau segala hal jika bermanfaat bagi manusia). Dengan demikian kajian-kajian pengembangan konsep dari gagasan revolusi indutrui 4.0 tidak memisahkan dengan dimensi agama atau ilahiyyah (ketuhanan). Inilah jika menjadi tradisi Islam dalam mengkaji sains atau teknologi, yakni tidak akan terlepas atau menjauhi dari nilai-nilai agama. Hal ini, juga menjadi karakter Ulul Al-Bb jika menjalankan aktivitas berdzikir dan berpikir secara bersamaan. Allah SWT befirman : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang jika berakal", (191.) "(yaitu) orang-orang jika mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka."(Q.S Ali-Imran : 190-191).

Darusshofa Publisher

www.darusshofa.com

Disclaimer Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Sed nec sagittis dolor. Maecenas quam nunc, tincidunt quis facilisis ut,